| hitaM Putih |

hanya beberapa catatan...

Saturday, February 23, 2008

(Masih) Biru

oleh : Danny “dW “ Wetangterah

part 1 : Prolog

Disini; di Atambua, kantor saya masih sepi. Saya orang keempat yang tiba di kantor pagi ini. You’ve got mail! suara yang keluar dari speaker komputer kerja saya oleh sebuah program pengingat, memberitahukan kalau inbox saya terisi imel baru.

part 2 : Nelangsa

From : Ona [d3t3ct1ve_con4n@yahoo.com]
To : dannyditimor@gmail.com
Cc :

Subject : K' tolong opini do???

Shalom Kk, ini bt baru baca ju bt pg email dg ni.
skrg ktg su hidupkan lagi surat nika, sdh terbit edisi perdananya itu yang ktg bilang ada kejutan tu dgn judul Sesuatu Yang Tertunda. tp bt blm bisa kirim buat K coz ktg blm convert pi pdf na....
sekarang ktg mau edisi dua ni judulnya "Masih Birukah Kita" jd Kk tolong opininya dong tentang bagaimana ktg bergerakan sekarang ini…targetnya terbit kamis depan jadi nanti ktg kirim kasih Kk edidi 1 dan 2 sekalian.ok...

Ona, Fiz n Slem

Sebuah kejutan yang menyenangkan! Suratnika terbit lagi. Juga ternyata masih ada yang merasa saya bisa menulis opini! Saya tercenung.

Buat saya, bukan bagaimana menulis opini yang membuat saya tercenung, karena walaupun tak pandai, namun saya biasa menulis lepas. Pilihan thema edisi Suratnika kali inilah yang membuat saya tercenung.

Bukan apa-apa, saya merasa jauh dari konteks thema edisi kali ini, karena ketidaktahuan saya apa yang terjadi di lokus almamater saya; kampus dan komisariat. Masih biru-kah kita? Ada penekanan makna pada kata “biru” disitu. Kenapa kemudian, adik-adik saya ini – yang saya kenal tangguh! – kemudian mempertanyakan pertanyaan itu? Saya tentunya cuma bisa nelangsa dan menerka.

Apalagi saya diminta untuk menerjemahkan penekanan makna “biru” ini menjadi sebuah perspektif opini, hmm.. itu tidak gampang. Saya tak biasa menulis opini seperti yang ada di koran-koran, secara itu saya memilih untuk menulisnya dengan gaya saya sendiri!

part 3: Biru

Saya kemudian googling dan mencari referensi tentang makna “biru” ini di internet. Hasil pencarian mbah Google menunjukan lebih dari 1000 referensi tentang “biru” namun dengan pengertian yang – menurut saya- sama. Biru adalah sebuah warna dan dengan personifikasinya, maka biru seakan-akan mewakili komponen tertentu.

Kalau anda sering bekerja dengan pewarnaan, warna biru termasuk dalam elemen warna utama atau warna primer; dari komponen warna RGB (Red-Green-Blue). Kombinasi tiga warna primer ini, dengan takaran tertentu kemudian menciptakan jutaan warna-warna yang lain. Menakjubkan! Biru mewakili sebuah keutamaan.

Menurut pengalaman saya; personifikasi dari warna biru itu seakan-akan mewakili sebuah komponen (baca : kelompok) tertentu dalam elemen lingkungan kita. Misalnya; rekan-rekan di GMKI atau kebanyakan orang kristen di timor, melihat warna biru sebagai personifikasi dari kelompok mereka. Baju yang biru, spanduk yang biru, lambang yang biru, garis biru, juga ikon dan istilah lain yang menggunakan personifikasi warna biru. Seperti juga personifikasi dari merah, kuning, hijau, ungu, dan hitam. Warna kemudian juga menjadi ikon kubus eksklusiftas elemen-elemen yang mewakilinya.


part 4 : Masih Biru-kah kita?

Saya kok yakin; kalau pertanyaan diatas tak hadir begitu saja. Memilih thema ini tentu lahir setelah debat ketika rapat redaksi, dengan argumen, latarbelakang dan konteks pergumulan rekan-rekan di sana. Saya – di Atambua - terlalu jauh untuk secara tepat menerka kenapa thema ini kemudian yang dipilih, tetapi saya sekali lagi yakin kalau ada alasan untuk pilihan ini.

Alasan itu tentunya ada karena banyak dari kita yang kemudian merasa bahwa makna personifikasi biru itu mulai luntur. Kebanyakan kita seperti tak “biru” lagi. Mungkin kita perlu kembali memaknai dahulu makna biru itu, sebelum kemudian mengambil kesimpulan.

Seperti kombinasi warna biru-merah-hijau yang menghasilkan jutaan warna lain, makna personifikasi biru juga bisa menghasilkan makna-makna berikutnya. Personifikasi biru – yang mewakili kelompok tertentu- harus juga bisa berarti komitmen pelayananan dan motivasi. Sehingga pertanyaan : Masih biru-kah kita? tak beda dengan: Masih berkomitmen-kah kita?

Seperti kombinasi warna biru-merah-hijau yang menghasilkan jutaan warna lain, ke-biru-an kita mungkin tak akan bermakna jika kemudian tak mewakili kebersamaan. Pelangi tak akan indah kalau hanya satu warna saja, biru misalnya. Pelangi indah karena polarisasi sinar matahari dan embun itu kemudian menghasilkan banyak warna. Personifikasi warna biru juga seharusnya berarti kebersamaan yang hadir karena menerima ketidaksamaan. Ketidaksamaan karakter, pola pikir, visi, kepentingan, mungkin juga komitmen. Baik sebagai elemen personal di dalam kelompok atau sebagai kelompok –yang diwakili oleh warna biru – itu sendiri.

part 5: Kejutan yang menyenangkan!

Suratnika terbit lagi! Buat saya, ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan! Edisi kali ini memang terbit dengan sebuah thema reflektif. Buat saya yang jauh di Atambua, melakukan refleksi terhadap pergumulan kelompok - yang diwakili oleh warna- biru di kupang terlalu tinggi dan kurang mengena, mungkin juga tidak.

Tapi saya merasa lebih bisa merefleksikan thema ini buat sedikit teman-teman di redaksi Suratnika. Sadarkah teman-teman? kalau untuk setiap edisi Suratnika yang terbit, teman-teman harus menjalankan keterwakilan kelompok biru itu? Dan juga harus melakukan polarisasi pengertian terhadap kebersamaan, terhadap komitmen dari kelompok yang diwakili kalian? Seperti personifikasi dan polarisasi warna biru!

part 6: Epilog
Saya sekarang sementara berpikir tentang teman-teman yang bekerja menghasilkan beberapa lembar fotokopian Suratnika ini. Yang mungkin kemudian dibaca dan menjadi alas duduk di koridor samping kelas – seperti pengalaman kami dulu. Makanya, ketika kalian adik-adik saya ini – yang saya kenal tangguh!– memilih thema ini menjadi thema berikutnya, dan bertanya Masih biru-kah kita? disini - jauh di Atambua – sambil membayangkan bagaimana kalian pontang-panting menghasilkan Suratnika edisi kali ini, saya akan dengan lantang menjawab: MASIH!