| hitaM Putih |

hanya beberapa catatan...

Wednesday, August 24, 2005

Adik Bungsu

Adik lahir 11 bulan yang lalu, tapi berat tubuhnya hanya 6 kilo lebih sedikit. Bapak, ibu, saya dan para tetangga sedih kalau melihatnya.


+++ kemarin +++

Adik lahir ketika keluarga ibu menuntut bapak untuk segera melunasi Belis. Waktu itu bapak bingung, ibu juga sedih. Sepanjang malam ibu menangis Ibu terus memikirkan bapak.

ibu bilang, bapak tak mungkin bisa membayar Belis. Kondisi ibu saat itu mulai lemah, karena sedih dan sering menangis. Tapi walaupun lemah ia harus terus bekerja, menjual gorengan dan mengurus saya dan adik-adik. Waktu itu ibu sering pusing-pusing, bahkan beberapa kali ia terkena demam tinggi sedangkan bapak jarang pulang, pikirnya mungkin ada saya yang menemani ibu.

Adik lahir dibantu ibu bidan. Ibu bidan geleng-geleng melihat adik. Berat adik 1,3 kilo. Kami senang ia lahir dengan selamat, tapi ibu bidan tidak. Sebelum pulang dari rumah ibu Bidan berpesan; “Anak ini harus benar-benar mendapat perhatian, terlebih harus memperhatikan gizinya”. Waktu itu bapak sekali lagi tak ada di rumah.


+++ hari ini +++

ibu bidan datang dan meminta adik dibawa ke rumah sakit. Badan adik kurus,. Perutnya saja yang membesar.. adik belum bisa berbicara, hanya matanya saja sering bergerak kekiri dan kanan. Apa lagi ketika ketika saya yang memberi makan. Adik sangat tenang.

Sore itu juga kami membawanya ke rumah sakit. Tiga hari ia dirawat disana. Dikasih infus dan disuplai makanan tambahan, Tapi kondisi adik begitu saja. Kata dokter Adik juga mengidap radang paru-paru.

Malam itu usia adik tepat 11 bulan. Ia tak melenguh seperti biasanya, pandangan matanya seperti pandangan ibu kalau lagi sedih. Kosong. Saya tidak tahan dan menangis. Ibu hanya tersedu. Adik bungsu ku baru saja pergi.



+++ nanti +++

Kawan atau siapa saja
apakah kamu akan membiarkan ini
membiarkan adik bungsu pergi dengan tatap sayu itu
dengan tubuh kurus,
ringkih tersembul tulang, dan tak berdaya dalam suara?

Anakku bukanlah anakku
Adikku bukanlah adikku
anakmu dan adikmu jugalah
mereka di mana kamu
bergabunglah bersamaku
pekikkan suaramu
untuk berteriak tidak,
tidak untuk tatapan mereka
tidak untuk timor
tidak untuk Indonesia
bersamaku berdoa di atas makam para bungsu

mereka pahlawan
pahlawan yang mengingatkan kita
ingat generasiku untuk mati hidupnya bangsa ini

Kupang, 3 September 2005


+++ beberapa menit yang lalu +++


Cerita dan puisi ini adalah ungkapan hati seorang teman relawan perempuan; yang bekerja sebagai relawan pendamping masyarakat eks pengungsi Timor-timur di salah satu lokasi penampungan sementara di Kabupaten Kupang.

Dia menulis cerita ini setelah seorang anak dari keluarga dampingan-nya meninggal beberapa hari yang lalu; karena kondisi kurang gizi dan tak dapat dirawat di rumah sakit karena keluarga mereka tak mampu membayar.

Sejak 1982; P. Timor dan sekitarnya bergelut dengan kondisi gizi buruk dan tingginya angka kematian ibu hamil dan balita. Sampai dengan tahun ini 11400 anak di NTT menderita gizi buruk, Angka kematian ibu hamil tahun 2004 mencapai angka 600 per 100 ribu orang (Data UNICEF, Nasional : 334 per 100 ribu orang), Angka kematian bayi tahun 2004 mencapai 62 per 1000.

Kebijakan-kebijakan pemerintah tentang akses masyarakat terhadap sumber daya dan kontrol terhadap ekonomi sangat tidak melindungi rakyat dan cenderung hanya untuk keuntungan pemerintah dan golongan tertentu saja. Diperburuk dengan merambahnya kapitalisme di kota dan korupsi yang merajalela (Tingkat Korupsi di Propinsi NTT berada di urutan ke 5 dari seluruh propinsi di Indonesia). Ketidaksadaran kita mengenai kondisi ini mengakibatkan rendahnya pemahaman masyarakat tentang gizi. 70 % kasus kurang gizi di Kab. Kupang datang dari keluarga dengan kepala keluarga berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Tahun ini; 64 Milyar disiapkan pemerintah untuk menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan busung lapar, namun sangat bersifat darurat (revitalisasi Posyandu dan pemberian makanan tambahan!.. b*lls*t!), masih gaya pemadam kebakaran!, ada api disiram! Sementara kondisi gizi buruk di NTT sudah terjadi setiap tahun sejak 1982, sampai hari ini. Sementara sistem dan kebijakan yang akhirnya memproduksi anak malnutrisi dan kurang gizi sama sekali tak tersentuh!


+++
Download : Apa itu busung lapar?
+++

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home